SENI MENCIPTA SENI
“Ga, mana karyamu yang baru? Kok kamu gak nulis lagi?’, “Ga, jangan kelamaan gak nulis, entar ilmu tarian penyihir kata milikmu ilang!”,”Coy, ada rencana nulis cerpen apa lagi nih?” Dan banyak lagi komentar lainnya.
Sebenarnya tak pernah ada keinginan untuk berhenti menulis, hanya saja waktu dan ide yang terus menjerat tangan ini untuk tidak kembali membelai mesra tuts-tuts komputer pinjaman di kamar kosku. Tak ada lagi kesempatan untukku menelorkan sebuah karya Maha Agung dalam persepsiku sendiri dalam lembar-lembar kertas A4 untuk disetorkan ke pembaca setiaku kendati ia hanya satpam sekolahku saja. Entah mengapa aku selalu gagal memancing satu dari jutaan ide kreatif yang terus mengangkasa di alam mayapada. Pernah suatu umpan imajinasiku dimakan seekor ide kreatif, namun ide itu langsung binasa sebelum sempat kugoreng dengan kata dan kubumbui kalimat jiwa dari setiap pembaca yang terlanjur menyelam dalam samudra rekayasa kata-kata entah bermakna atau sia-sia. Eits, jangan bersuzhon ria dulu, aku selalu berusaha menyesakkan beberapa argument maupun ideologi membangun disetiap karyaku. Masalahnya apakah setiap insan pembaca setiaku dapat menemukan atau malah sudi menyusuri setiap aliran kalimat dan setiap sela kata untuk menemukan pesan rahasia penuh makna untuk direnungi bersama.
Entah mengapa, kenapa, bagaimana, seperti apa dan ada apa, ide kreatif tidak lagi mengalir seperti dulu. Seperti ada karat 24 karat (hebat bukan kepalang kalimatnya) menyumpal saluran kreatif di pojok kanan otak ini. Oke, kucoba untuk kembali menulis walau hanya bermodal semangat dan percaya diri. Kutekan tombol power pada komputer desktop Pentium 1 dengan RAM 256 MB yang berdiri kokoh di hadapanku. Beberapa saat kemudian muncullah tulisan “MICROSOFT WINDOWS ME LOADING”. Sungguh riskan, naas, sadis, luar biasa parah. Saat teman-teman sekolahku sedang asyik nongkrong di bangku taman sambil nge-net via hotspot gratisan dengan laptop layar sentuh (hebat bukan kepalang kawan, di luar biasa kagum diri ini melihat mereka menyentuh-nyentuh layar mereka) atau sekedar dengan laptop super mini, lebih mini dari semua rok mini yang pernah ada, cukup sebelah tangan untuk membawanya, yang membuat orang kampungan sepertiku bingung untuk mengklasikasikannya dalam genus komputer atau hand phone. Makhluk pelosok ini masih asyik dengan mesin tua yang haqqul parahnya lagi adalah pinjaman.
Kugerakkan kursor dengan mouse dekil untuk mencari software pengolah kata di komputer angkatan 98 ini. Butuh waktu hampir sepuluh detik hanya untuk membuka aplikasinya. Saat program selesai loading, kini giliran otakku yang meloading setiap kata untuk ditransfer melalui jemari penuh kekuatan magis sastra ini ke keyboard usang yang tak jelas lagi antara huruf A dan Y, untunglah aku tak pernah ambil pusing dengan masalah sepele ini. Bagiku tak ada kata looking the keyboard (luar biasa magis bukan kaliam satu ini), semuanya sudah dihapal jari-jari agung ini dengan sempurna. Tak perlulah otakku menyediakan sepasi untuk menyimpan memori tantang posisi-posisi tuts keyboard “bulukkan” ini, karena jemari ini sudah menyediakan memori tersendiri untuk hal seperti ini. Bahasa ilmiahnya “Hapal di luar kepala”.
Sejam berlalu . . .
Arghhhhhhh . . . . sungguh tak terperikan. Sejam kulewati bersama halaman kosong layar 14 inchi di hadapanku. Tak terhitung sudah berapa kali aku membaca merek layar komputerku. “Polytron, Polytron, Polytron” kata itu berulang kali merayap dalam otak ukuran standard ini. Sungguh sulit ide untuk berrinsrek masuk jika “polytron” lebih mendominasi isinya.
. . .kala senja telah hilang dan tenggelam . . .
kala hati telah terluka dan terbuang sekuat mungkin ku akan membuktikan bahwa hati itu luas tak berbatas
jika senja pasti akan tergantikan fajar . . .
Sebuah lagu dari speaker komputer mengisi ruang pendengaran disela-sela waktu kosong yang terus kulalui dalam pencarian kata di dunia kreatifitas. Akhirnya setelah dua jam mencari terlahirlah sebuah keputusan untuk mulai menulis. Detik demi detik terus berlalu, kuterus menulis didampingi sang waktu. Tak peduli kalau jalan sudah menjadi sepi, teman-teman kostku sudah terpuruk dalam buaian mimpi. Sementara aku di sini terus sok jadi sastrawan, terus menulis kalimat-kalimat maut penghujam hati, pembakar asa, pengaduk rasa. Beberapa saat kulalui dengan meramu tiap kosakata milikku menjadi frasa, kalimat dan setelah sejam berlalu akhirnya satu paragraph berhasil kumuntahkan dilayar komputer.
“tet tet tet” sebaris pesan berhasil menyesakkan diri dalam inbox hp bekas yang dibeli dengan uang pinjaman diatas kasurku itu (ribet banget sih).
Ga, bsk dtg pge yaw ke skul! We mau xntk tgs mtk u, tanx a lot bfr . . .
(Ga, besok datang pagi ya ke sekolah! Aku mau nyontek tugas matematikamu, terimakasih sebelumnya)
Hah, datang juga pesan dari makhluk Homosapiens ini. Sudah kuduga pasti akan ada ultimatum sebelum mereka memperkosa buku tugasku dengan sadisnya. Setiap jengkal angka tak ada yang mereka lewatkan, habis dilahap dengan beringas. Oke, selama ini aku memang rela saja angka-angka kreatifku mereka jiplak sempurna dengan bangganya. Tak sadar mungkin mereka akan mendapat azab setimpal atas perbuatan mereka, bukankah tugas memang diberikan agar kita belajar saat kita mengerjakan tugas itu. Nah, kalau mereka hanya “nyontek” sempurna, kapan mereka belajarnya?
“Aku sudah belajar, sudah mencoba jawab tugasnya, tapai mau gimana lagi kalau nggak paham?” Okelah, opini ini masih bisa aku terima. Alasannya gampang saja kawan, kapasitas setiap orang berbeda, asal mereka sudah berusaha namun hasilnya tetap sama, artinya mereka perlu bantuan dari luar. Tunggu, mungkin kalian yang kritis akan bertanya apa bantuan itu harus dengan menyontekkan jawaban? Aku jawab Tanya ini. Jawabannya tidak, menyontekkan hanya membantu mereka untuk sementara, untuk langkah kedepannya memang akan lebih bagus jika kita tolong mereka memahami konsep-konsep dasarnya untuk selanjutnya menerjang teori-teori selanjutnya. Terus apakah aku melakukan itu? Sebagai siswa berprestasi, terdidik dan terpelajar jawabannya tentu saja YA ( dengan tekanan yang kuat pada huruf Y), tapi aku bukan mereka, aku hanya kebetulan memiliki logika matematis lebih dari rata-rata teman sekelasku. Untuk urusan peringkat, tak pernah jauh dari peringkat lima sampai sepuluh (tak pernah turun kawan, juga tak pernah naik teman). Jadi, dengan sedikit bisikan iblis laknattullah aku terbujuk membiarka teman-temanku (terutama dengan peringkat di atasku) untuk menyontek tugas matematikaku tanpa pernah kujelaskan arti dari deretan-deretan angka membingungkan itu. Licik memang, mungkin perlu jika suatu saat dikirimkan seorang guru agama pribadi padaku, agar aku kembali ke jalan yang lurus dan menempuh hidup yang di ridhoi Allah.
Kembali pada layar komputer pinjaman di hadapanku. Satu paragraph bergeming dengan gagahnya. Sesaat kuberhenti berpikir dan mengaduk ramuan kata, kupandangi sejenak calon buah hatiku. Karena setiap yang terlahir dari tangan magis ini adalah anakku, mereka hasil perasan emosi, naluri, nurani, ideologi, fantasi dan pikiranku. “Sungguh tampan anakku kali ini” gumamku pelan. Melahirkan karya baru adalah sebuah kebutuhan, bahkan seharusnya menjadi candu bagi setiap penulis sejati. Tak menulis berarti derita, akan ada gejolak dan sebuah rasa yang seakan ingin membuncah keluar dari dinding dada. Seorang penulis sejati akan menulis walau tulisan mereka tak pernah di baca orang lain. Mereka menulis karena mereka butuh, perlu, mereka tak bisa hidup tanpa menulis (hebat bukan kepalang kawan, “mereka tak bisa hidup tanpa menulis, mengada-ada saja kalimat ini). Seperti cinta, mencintai bukan karena dipaksa atau terpaksa, para pecinta mencinta karena mereka ingin, butuh, perlu. Mereka tak bisa tanpa cinta mereka, mereka menderita tanpa cinta mereka, mereka terbunuh tanpa cinta mereka. Begitulah penulis, menulis adalah cinta mereka, dan karya mereka adalah buah cinta mereka. Apakah aku termasuk golongan penulis sejati, atau penulis yang mengikut golongan sesat? Suatu waktu memang pernah kujadikan kegiatan menulis menjadi sebuah pekerjaan, mengirim karya kebebarapa Koran dan majalah untuk mendapatkan sejumlah honor atas tulisan itu. Hasilnya lumayanlah untuk ukuran anak SMA yang kost di kota orang sepertiku, uang kiriman hanya datang sebulan sekali, bahkan tak jarang tak ada uang yang dikirimkan. Kau pikirkan dengan apa aku bertahan hidup? Bekerja! Bekerja teman, meneteskan keringat dan air mata saat teman-teman seumuranku asyik tertawa menikmati masa muda, berbagi cerita dengan sahabat setia tentang kisah cinta, atau sekedar hang out dengan teman-tema tercinta. Di sini aku berbagi cerita dengan awan dan berjalan besama angin. Tak ada masa muda untuk orang sepertiku. Memang kerja apa kau? Lagi-lagi mungkin timbul Tanya dalam diri kalian. Serabutan teman, dimana ada yang bisa kukerjakan akan kukerjakan, asalkan pekerjaan itu halal bin toyibah. Yah, menulis pernah menjadi alternatif untukku. Tapi itu terjadi sebelum akhirnya aku insyaf, aku akhirnya sadar bahwa menulis bukan pekerjaan, menulis adalah sebuah kebutuhan. Sesatlah orang yang menganggap menulis adalah pekerjaan.
“Angga, kamu mau pake komputer itu? Ambil aja, tapi Cuma kupinjami.” Ucap temanku saat melihatku asyik menekuri barang mewah ini di kamarnya. Katanya sih dia dapat laptop baru dari ayahnya, tapi nggak penting buatku karena apa kek dia jadi baik mau minjemin komputer. Satu kata yang bisa kuungkapkan hanyalah “anugrah”. That’s a miracle. Segera setelah satu set komputer lengkap dengan mesin pencetaknya terinstalasi di kamar kostku, lahirlah anak pertamaku yang segera mejeng di koran daerah. How nice that’s sound. Narsis banget waktu itu, kemana-mana bawa potongan koran yang isinya karyaku. Setelah dipikir-pikir baru kusadari betapa lucunya saat itu.
Oke, kembali pada cerpen yang sedang kubuat. Belum berkembang, mati tak mau hidup enggan, tidak mundur apalagi maju. Tak ada perubahan dari detik saat kucetakkan huruf terakhir. Statis kawan, tak berubah. Ide itu mampet lagi, entah mengapa hal ini terjadi padaku. Beberapa waktu yang lalu, saat terakhir karyaku menetas dengan indahnya, ide dan kalimat mengucur begitu saja dari tanganku ini. Tak ada kesulitan berarti saat merangkai tiap kata menjadi kalimat-kalimat pemikat jiwa. Gila luar biasa, begitu mudahnya manusia berubah. Kemarin aku masih bisa menulis sebuah cerpen tanpa kesulitan, hari ini semua menjadi terasa begitu sulit. Manusia memang gampang berubah, tak hanya aku, beribu manusia lainnya juga mengalami perubahan dalam hidup mereka, baik besar, kecil, penting, atau hal sepele sekalipun akan berubah dalam kehidupan seseorang. Manusia adalah makhluk labil, mereka terombang-ambing dalam keraguan, kitidak jelasan dan kesalahpahaman. Manusia sering tidak yakin dengan jalan mereka sendiri, bimbang sering bercokol di setiap hati manusia. Manusia perlu diikat (bukan makna sebenarnya teman) dengan tali-tali ideologi. Dan ideologi itu adalah Islam. Ehem, sedikit berdetak kencang hatiku saat mengatakan “ideologi Islam”, secara teori memang begitulah adanya, begitulah sebenarnya dan seharusnya. Tapi nyatanya? Diri ini sering tidak menjadi muslim yang kaffah, sering lebih mengutamakan logika daripada hukum-hukum Tuhan yang sudah jelas dan nyata. Begitulah manusia, begitulah aku, sering khilaf, bahkan sengaja khilaf. Tak pernah sadar dan mensyukuri nikmatnya, sudah jelas kita dicipta untuk bersyukur pada-Nya atas nikmat yang diberikan, tapi nyatanya? Manusia memang sering tak tahu terimakasih.
Teman, “Tuhan lebih sering memberikan petunjuk lewat hati,” tapi ada sebuah statement yang kuterima sedikit berbeda dengan hal ini, “hati kadang bisa salah”. Nah, terus apakah maknanya Tuhan kadang bisa salah? Aku rasa tidak, Tuhan tidak pernah salah, Allah ada zat yang benar dan senantiasa benar. Lalu kenapa suatu waktu aku pernah merasa kalau hatiku telah salah? Kurasa jawabannya adalah “Tuhan akan memberikan petunjuk melalui hati yang bersih, hati yang selalu mengingat diri-Nya, hati yang tak pernah menduakan-Nya, hati yang hidup hanya untuk-Nya.” Hati seperti inilah kurasa yang akan memperkuat statement itu, tak ada yang salah, yang salah hanya pada hatiku, SYSTEM ERROR, kesalahan dalam hatiku karena sudah dipenuhi virus-virus ego. Sudah saatnya bagiku untuk menupgrade hati ini menjadi lebih baik, mengembalikan jalur komunikasinya pada jalur yang benar.
Seberkas gumaman tentang hati membuatku tenggelam dalam ide-ide baru. Akhirnya, sang Khalik mengembalikan processor intel “kreatif” dalam otakku. Sip, sebaris kalimat akan segera kucetuskan. Ini saat yang penting, setelah sekian waktu kalimat kembali berjubel dalam kepalaku. Dan . . .
“Petss. . . .”
Bencana, musibah, petaka, neraka (ops, ini berlebihan). Listrik padam.
“Aaaaaaaaaaaaaargh . . . . “ terdengar teriakan memilukan menyayat jiwa, mungkin lebih tepat disebut lolongan dari pada teriakan, apa musabab? Suaranya kawan, mengerikan.
Para penghuni kost terbangun dan segera berlarian menuju sumber suara.
“Rangga, ada apa?” Tanya Rudi sambil menyorotkan sinar senter.
“A, a, a, anakku Rud!” Jawabku seraya menunjuk layar komputer (berlinangan air mata).
Diselesaikan bersama alunan
Famous Last Word ( My Chemical Romance)
DIarsipkan di bawah: cerpen
























thx udah mampir :)
aihhh rajin banget nih buat cerpen. 2 jempol deh buat kamu …
Mantep cerpennya, semangat..semangat… terus berkarya.
Cerpennya dah selesai nggak ney????????
udah, mang sengaja dibikin kayak gitu . . .
mau komen apa yaa?? hmm…
ini aja deh. OOT tapi-nya… hehe.
selamat tinggal kawan… gw mau pergi meninggalkan blogging selama sebulan…
sampai ketemu setelah UAN… keep blogging!
tetep semangat nulis ya…
Ajarin nulis cerpen yg panjang kayak gitu donk..
Apa harus sambil dengerin MCR ya?
gagagagag . . . :)
tergantung individunya masing2 kkkkk
aku tak bisa apa-apa, hanya penikmat seni..
salam
Salam Kenal yahhh
maen-maen ke blogqu yahhhh
gila kok bisa sih ngerangkai kata2 kk gitu..pengen nih belajar…
keren deh blog na…