Posted on Februari 26, 2009 by yoga
I gotta stuck now . . .
Ever you feel the same reason in your heart?
So hurt but you just can quite with the hurt in your heart . . .
Even you?
Like some people who has try to kill you. But you can’t do anythink . . .
Your mouth was closed by some power, your body [...]
DIarsipkan di bawah: puisi | 1 Komentar »
Posted on Januari 11, 2009 by yoga
Lirik lagu Hijau Daun – Suaraku (Berharap)
Disini aku masih sendiri
merenungi hari-hari sepi
Aku tanpamu
Masih tanpamu
Bila esok hari datang lagi
Ku coba untuk hadapi semua ini
Meski tanpamu, Oo~ meski tanpamu
Bila aku dapat bintang yang berpijar
Mentari yang tenang bersamaku disini
Ku dapat tertawa menangis merenung
di tempat ini aku bertahan
Suara dengarkanlah aku
Apa kabarnya pujaan hatiku
Aku disini menunggunya
masih berharap di dalam hatinya
Suara [...]
DIarsipkan di bawah: puisi | 1 Komentar »
Posted on Januari 4, 2009 by yoga
Dunia
Hati merenggut nyawa
Jika Iman sudah berkata
Bahwa dunia tidaklah lama
Hanya sejengkal saja
Cahaya itulah harapan kita
Cahaya yang menyirami hati
Menyejukkan jiwa
Dengan hanya mengingatnya
Badai
Angin berderu menghempas pasir kering
Mengabur pandang
Arah dan tujuan sudah tak kenal pandang
Saat badai ini datang menjelang
Rombongann khafilah terpisah
Terdinding akan pasrah
Pada Maha Kuasa Berserah
Saat hanya ada gelap
Berlindung batuan dan Tuhan
Semangat itu datang
Badai pasti berakhir
Egois
Sampai kapan negri ini [...]
DIarsipkan di bawah: puisi | 3 Komentar »
Posted on Desember 15, 2008 by yoga
. . . .malam . . . .
malam ini tak berbintang
hanya ada mendung selimuti sang bulan
malam ini tak berbintang
dan aku lewati jalan rintangan
malam ini tak berbulan
saat ku temukan rembulanku sayang
di jalan tak kukenal kawan
gemuruh awan tandai waktu
dimulai dari turunnya hujan
bahwa malam ini mungkin tak terulang
saat bulan tersenyum padaku kawan
malam ini tak berbintang
hanya ada mendung selimuti [...]
DIarsipkan di bawah: puisi | 1 Komentar »
Posted on November 30, 2008 by yoga
Sajak Kuburan
bongkah tanah melintang kalang semua pandang
sendiri sepi
tertanam oleh timbunan dosa
meminta jatah memakan raga
pedih, perih, sedih, merintih
mereka datang!!!
dua wajah mengerikan menanya dalam gelap
aku sunyi, aku sepi
lidahku terkunci
hari ini siksaku di mulai
hingga akhir nanti
Anak-anak pemimpi
Anak-anak meludah
dahi manusia dewasa, pada yang tak becus mengurus masa depan
menggerus tambang impian
menebang [...]
DIarsipkan di bawah: puisi | Leave a Comment »